PALANGKA RAYA Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Universitas Palangka Raya (UPR) sukses melaksanakan Pelatihan Agroforestry Tahun 2026 pada 22–23 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Betang Main Palangka Liu Tarantang Batarung (BM-PLTB) ini diikuti sebanyak 99 peserta yang berasal dari jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi di Kota Palangka Raya.

Mengusung tema “Penguatan Kepedulian Lingkungan melalui Kegiatan Agroforestry bagi Generasi Muda”, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda, khususnya anggota Pramuka, mengenai konsep agroforestry sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.

Selain memperkenalkan konsep agroforestry, kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan keterampilan praktis peserta dalam penerapan teknik agroforestry, memperluas pengetahuan mengenai pengelolaan kompos ramah lingkungan, serta mendorong gerakan penanaman pohon sebagai bentuk nyata penghijauan.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi teoritis dan praktik lapangan terkait agroforestry, pengelolaan kompos, hingga konservasi lingkungan. Sebagai bentuk implementasi pembelajaran, peserta juga melakukan penanaman pohon dan bibit tanaman di Lahan Percontohan TP PKK Provinsi Kalimantan Tengah.

Ketua Pelaksana, Suci Ramadhani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami bersyukur kegiatan Pelatihan Agroforestry Tahun 2026 dapat terlaksana dengan baik dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk memberikan dampak positif di lingkungan masing-masing,” ujar Suci.

Menurutnya, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis di kalangan generasi muda agar mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum Betang Main Palangka Liu Tarantang Batarung (BM-PLTB), Zakari, yang diberikan kesempatan menyampaikan sambutan, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya.

“Betang Main Palangka Liu Tarantang Batarung hadir tidak hanya untuk melestarikan seni bela diri tradisional dan kebudayaan adat Dayak, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda agar memahami nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur,” katanya.

Zakari mengingatkan bahwa warisan budaya merupakan identitas yang harus dijaga bersama di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.

“Generasi muda harus mencintai dan menjaga warisan budaya leluhur. Tidak hanya budaya Dayak, tetapi seluruh kekayaan budaya bangsa Indonesia. Kemajuan zaman tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zakari menilai tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini adalah menurunnya keterikatan terhadap budaya lokal serta rendahnya kepedulian terhadap lingkungan akibat pengaruh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup.

“Tantangan ke depan semakin kompleks. Generasi muda menghadapi derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, hingga perubahan sosial yang sangat cepat. Jika tidak dibekali dengan pemahaman budaya dan kepedulian lingkungan yang kuat, maka kita berisiko kehilangan identitas sekaligus kehilangan kesadaran untuk menjaga alam,” tegasnya.

Ia pun mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

“Visi kami ke depan adalah menjadikan Rumah Betang sebagai pusat pembelajaran budaya, lingkungan, dan pengembangan karakter generasi muda. Kami ingin melahirkan generasi yang cerdas, berdaya saing, berakar kuat pada budaya, serta mampu menjadi pelopor pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Tengah,” pungkas Zakari.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memperoleh wawasan, pengalaman, dan keterampilan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan Agroforestry 2026 juga menjadi bukti nyata kolaborasi antara organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat dalam membangun kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya di kalangan generasi muda.