Tulisan ini adalah catatan pemikiran hasil dari forum diskusi Ngupi Sakti II bersama Cornelis (Bang Onel)

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Dayak saat ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: ke mana arah perjuangan generasi Dayak ke depan? Pertanyaan inilah yang menjadi ruh dalam diskusi “Ngupi Sakti II” yang dipantik oleh Cornelis (Bang Onel) dengan tema “Reposisi Utus Dayak dalam Solidaritas Lintas Ormas untuk Memperjuangkan Kepentingan Komunal.”

Bang Onel mengingatkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat Dayak hari ini bukan semata datang dari luar, melainkan juga dari dalam. Polarisasi yang terjadi akibat perbedaan kepentingan, ego kelompok, dan identitas organisasi sering kali membuat energi perjuangan terpecah. Tidak jarang, perbedaan “baju ormas” menjadi sekat yang mengaburkan tujuan bersama.

Di berbagai ruang diskusi dan aktivitas organisasi, perhatian sering tersita pada urusan internal masing-masing lembaga. Akibatnya, fokus perjuangan bergeser dari kepentingan kolektif menjadi kepentingan sektoral. Dalam istilah yang menggelitik namun sarat makna, banyak yang lebih sibuk mengurus “usus” daripada “utus” atau bahkan teriak atas nama utus demi usus namun hal itu penting karena itu bicara kehidupan masing-masing tetapi jangan sampai hal itu juga membuat kita melupakan apa yang menjadi kepentingan bersama. Sibuk dengan persoalan internal organisasi, tetapi lupa mempersiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan estafet perjuangan Dayak di masa depan.

Keadaan ini menjadi tantangan serius. Ketika energi habis untuk mempertahankan eksistensi kelompok masing-masing, maka isu-isu strategis yang menyangkut kepentingan komunal sering terabaikan. Padahal tantangan yang dihadapi masyarakat Dayak ke depan semakin kompleks, mulai dari persoalan sumber daya alam, pendidikan, kebudayaan, ruang hidup, hingga pemberdayaan generasi muda.

Karena itu, reposisi utus Dayak menjadi sebuah kebutuhan. Generasi Dayak harus ditempatkan kembali sebagai subjek utama perjuangan, bukan sekadar pelengkap atau penonton dalam dinamika organisasi. Mereka harus dipersiapkan sebagai penghubung antar-generasi, antar-komunitas, dan antar-organisasi untuk membangun kekuatan kolektif yang lebih besar.

Solusi yang ditawarkan bukanlah menyeragamkan semua organisasi atau menghapus perbedaan. Perbedaan adalah keniscayaan. Yang diperlukan adalah menemukan “benang merah persatuan” yang melampaui atribut, simbol, dan kepentingan kelompok. Benang merah itu adalah kesadaran akan identitas dan jati diri sebagai Dayak.

Ketika setiap orang kembali menyadari siapa dirinya, dari mana asalnya, dan untuk siapa perjuangannya dilakukan, maka perbedaan organisasi tidak lagi menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan penghubung. Organisasi akan menjadi alat perjuangan, bukan tujuan perjuangan itu sendiri.

Masa depan masyarakat Dayak membutuhkan solidaritas yang lebih luas dan matang. Solidaritas yang tidak dibangun atas dasar kesamaan atribut, tetapi atas dasar kesamaan cita-cita. Solidaritas yang mampu menyatukan berbagai elemen untuk memperjuangkan kepentingan komunal secara bersama-sama. Sebab tantangan besar tidak akan pernah bisa dihadapi oleh satu organisasi saja, melainkan oleh kekuatan kolektif yang bergerak dalam satu arah.

Harapan terbesar dari reposisi utus Dayak adalah lahirnya generasi yang mampu melampaui sekat-sekat organisasi, membangun kolaborasi lintas ormas, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok. Generasi yang tidak hanya bangga mengenakan identitas Dayak, tetapi juga mampu menerjemahkan identitas tersebut menjadi kerja nyata bagi kemajuan bersama.

Pada akhirnya, perjuangan Dayak bukan tentang siapa yang paling besar organisasinya, siapa yang paling banyak anggotanya, atau siapa yang paling keras suaranya. Perjuangan Dayak adalah tentang bagaimana seluruh elemen dapat berjalan berdampingan, bergandengan tangan, dan menjaga api persatuan agar tetap menyala dari generasi ke generasi.

Karena ketika kita kembali mengenali jati diri, kita akan menemukan bahwa perbedaan hanyalah warna, jadi ini bukan lagi bicara siapa saya atau siapa kamu tapi ini bicara kita semua karena persatuan adalah rumah bersama. Dan dari rumah bersama itulah masa depan Dayak yang kuat, bermartabat, dan berdaulat dapat dibangun.